Blogger Backgrounds

Minggu, 10 Maret 2013

Cerpen


“MIMPI DI DALAM MIMPI”


Disebuah desa didaerah perbatasan antara Indonesia – Malaysia, hiduplah seorang anak yang bernama Cici. “Ci….Cici”panggil ayahnya “iya sebentar pak”  jawab Cici “oh…..Ci belikan dulu bapak rokok di warung” teriak ayahnya, “beli apa pak” jawab cici “beli rokok 5 batang ”sahut ayahnya,  ”beli dimana pak?” tanya Cici ”beli di warung  lah cepat lah ” jawab ayahnya. Cici pun bergegas pergi ke warung, “ Pak ada rokok” kata Cici, “gak ada dek disana dek, di warung pak Jono”kata penjaga warung tersebut. Cici pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan warung tersebut. Tiba – tiba ditengah jalan Cici melihat sesuatu “ih apa nih?”katanya. “Alhamdulillah dapat uang Rp.2000”. Ternyata Cici menemukan uang Rp.2000 dengan senyum yang lebar dan wajah yang berseri Cici kembali melanjutkan perjalanannya”.”beli apa Ci”kata pak Jono “beli rokok 5 batang pak ”jawab Cici ini uangnya”(sambil mengulurkan tangannya). “yah si Cici ini uangnya kurang”jawab pak Jono “alamak baru juga dapat uang dijalan sekarang uangnya hilang lagi iss…iss..iss” jawabnya. “kenapa Ci uangmu hilang” kata pak Jono “Gak pak berapa semuanya”  jawabnya, “Rp.10.000” jawab pak jono “ini uangnya pak” kata Cici “makasih yah” , “sama-sama ” begitulah kata mereka berdua.
Ihhh aku rasa ini hari tersialku sial….sial…sial ! eluh Cici sesampainya dirumah Cici segera memberikan rokok tersebut kepada ayahnya “ini pak rokoknya”, ”oh ya ambilkan dulu bapak sandal ada di bawah meja” suruh ayahnya. Cici segera pergi ke dalam rumahnya dan melaksanakan perintah ayahnya, ”ini sendalnya” kata Cici  “jangan jalan – jalan ke tempat lain jaga rumah “, “iya”(sambil mengejek- ejek ayahnya) . “bapak ni cerewet suruh ini lah suruh itu lah ambil ini lah ambil itu bikin pusing”eluhnya.
“aduh.. kaki ku”teriak Cici “sial kaki ku tertusuk paku” “ya Allah kenapa hari ini  aku sial sekali”.
Keesokan paginya ketika hendak ke sekolah Cici berdiri di depan kaca jendela rumahnya memandang bayangan dirinya yang mengenakkan topi, dasi, seragam putih abu – abu serta sandal karena salah satu kaki cici tertusuk paku “pak aku berangkat sekolah ” kata Cici namun tak terdengar jawaban salam dari ayahnya karena ayah Cici sedang sholat subuh karena kelelahan setelah melaut dengan jadwal pulang ke rumah tidak tentu maka bapak dan anak tersebut tak dapat menjalankan sholat berjamaah .
Ketika memasuki halaman sekolah orang – orang memperhatikan Cici “kenapa orang – orang memperhatikan aku yah sungguh aneh sekali”. Semua orang tersenyum padaku gak seperti kemarin sial terus “ ucapnya . Ternyata orang – orang tersenyum kepada Cici karena menertawakan penampilan Cici yang aneh dia mengenakan sepatu dan sandal karena hanya satu kaki yang tertusuk paku, maka dia hanya memakai sandal pada kaki yang tertusuk paku sedangkan kaki yang satu lagi memakai sepatu lengkap dengan kaus kaki, semua orang tertawa melihat penampilan Cici karena tidak tega tertawa di depan Cici maka teman – temannya hanya menahan tertawa mereka sehingga terlihat mereka semua tersenyum kepada Cici .
Teng…teng…teng…teng lonceng berbunyi tanda kelas belajar hari ini selesai Cici dan teman – temannya kembali ke rumah mereka masing – masing.
“Ya Allah anak gadisku Cici coba lihat kaki mu apa kau tidak malu ! lihat penampilanmu kaki satu pakai sandal kaki satunya pakai sepatu, astagfirullahalazim” oceh ayahnya “ ngapain malu kan kaki yang tertusuk paku hanya satu jadi kaki yang ini pakai sepatu “ (sambil menunjukkan  kakinya). Ketika memasuki rumah Cici berhenti tepat di samping pintu “ya ampun ruamahku seperti kapal pecah barang – barang berserakan dimana- mana ”. Semenjak ibu Cici meninggal dunia Cici dan ayahnya hanya tinggal berdua di rumah, sedangkan kakaknya sibuk berjualan kue di depan rumahnya sambil mengurus putranya M.Putra Abbas yang tinggal di desa sebelah, Cici adalah anak bungsu dari dua bersaudara kakaknya sudah menikah dan sekarang mempunyai anak satu, suaminya bekerja sebagai guru SD, sedangkan ayah Cici berprofesi sebagai nelayan yang tidak tentu penghasilannya. Ibu Cici meninggal dunia ketika Cici duduk di kelas 4 SD, kononnya penyebab kematian ibunya adalah di guna – guna orang (pelet) itu kata sebagian penduduk desa, di dalam tubuh ibunya di temukan  paku dan pecahan kaca, semua keluarga cici sudah berusaha untuk mengobati ke berbagai dukun di desa tersebut hasilnya malah makin parah semua harta di rumah Cici telah dijual untuk membayar biaya rumah sakit namun tak kunjung sembuh sehingga keluarga Cici memutuskan untuk pergi ke berbagai dukun di desa mereka namun tak kunjung sembuh dan akhirnya ibu Cici meninggal dunia, sejak saat itu ayah Cici sakit – sakitan dan bertambah parah ketika ayah cici terjatuh dari motor dan motor tersebut menimpa kaki ayahnya oleh karena itu, kaki ayahnya luka parah darah bertetesan ayahnya pun menjerit – jerit ketika di bawa ke puskesmas pak Edi langsung di rujuk ke rumah sakit ternyata baru diketahui bahwa ayahnya menderita diabetes kaki pak Edi perlahan – lahan membengkak dan makin parah, karena mahalnya biaya rumah sakit keluarga memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan memilih alternatif lainnya, pak Edi melakukan terapi khusus penderita penyakit diabetes dan alhamdulillah selama ± 1 bulan pak Edi dapat berjalan dan kembali beraktifitas seperti biasannya.
Tik..tik..tik.. terdengar suara hujan di atas genteng. “ pak hujan… oh pak hujan“, “ambil ember di luar ” balas ayahnya “ini pak”(sambil memberikan ember kepada ayahnya). Di saat hujan atap dapur rumah Cici bocor, jadi ayahnya meletakkan ember di bawah tetesan hujan. “Hujannya lebat sekali ”kata Cici.
Keesokan paginya Cici berangkat sekolah dengan mengendarai motor gede berwarna merah, helm merah, dan tas merah. Ketika tiba di depan gerbang sekolah semua mata hanya tertuju pada Cici “wow” kata mereka “Cici hari ini keren yah , keren banget bapaknya dapat peti emas kali ” hahahahaha tertawa teman – temannya “eh kamu jangan sembarang ngomong yah mulut itu di jaga , sembarangan aja ngomongnya” bentak Cici. Ayah Cici mendapat uang sebesar 500 juta dari seorang kakek yang dibantu ayahnya ketika mengangkat jaring – jaring ikan dan memberikan ayahnya uang sebesar 500 juta sebagai wujud terimakasihnya kepada pak Edi, uang itu di gunakan pak Edi untuk membeli sehektar tambak dan hasilnya memuaskan baru satu kali panen pak Edi berhasil mendapatkan uang sebesar 800 juta luar biasa uang tersebut di gunakan pak Edi untuk membeli motor gede membangun rumah bertingkat tiga dan barang mewah lainnya ketika panen untuk kedua kalinya pak Edi berhasil mendapat uang sebesar satu milyar dan digunakannya untuk membangun sebuah restoran nama pak Edi bukan lagi dikenal sebagai nelayan tapi sang juragan tambak setiap hari Cici beserta kakak Ira dan kak Rahman serta si kecil Abbas selalu pergi belanja. Siang, malam, pagi, sore hanya dipenuhi dengan aktifitas belanja siapa yang tak kenal pak Edi semua warga desa tak ada satu pun yang tak kenal pak Edi si juragan tambak.
“Ci..cici..cici” teriak ayahnya “kamu gak sekolah ini sudah jam berapa ”kata ayahnya “iya pak ” jawabnya “ternyata aku hanya bermimpi andai saja semuanya nyata senangnya dalam hati hahahha” katanya ”ini anak disuruh bangun sekolah malah tertawa cepat bangun nanti di tinggal carteran angkot mu” kata pak Edi. Cici pun bergegas mandi sedangkan ayahnya menyiapkan sarapan pak Edi menyiapkan segelas teh diatas meja dan satu cangkir kosong ketika selesai berpakaian cici dan ayahnya berbagi segelas teh dan memakan kue karena hanya ada satu kue ayah Cici pun hanya sarapan dengan setengah cagkir teh. Ketika menunggu carteran di depan gang rumahnya Cici kembali mengingat mimpinya dan dia bertekat kelak dia akan membangun rumah bertingkat tiga untuk ayah dan juga kakaknya.
Carteran angkot pun datang Cici bersama teman – teman lainnya saling bersapaan, di kelas Cici menceritakan kepada zaki dan juga nunung sahabatnya tentang mimpinya, Zaki dan Nunung hanya tertawa terbahak – bahak melihat Cici, “hahaha mimpi mu indah banget ci” serentak kedua sahabatnya berkata seperti itu, namun Cici hanya diam dan tak marah ketika teman – temannya berkata seperti itu dengan muka yang serius dia berkata “kelak aku akan membangun rumah bertingkat tiga, aku akan membuat restoran, tambak dan lainnya aku pasti bias !” katanya, kedua sahabatnya tertawa sampai mata mereka berkaca – kaca. Sesampainya di rumah Cici kembali melaksanakan rutinitasnya seperti biasa.
Keesokan paginya ketika sedang sarapan “aduh kerasnya” katanya, dia menangis ternyata giginya lepas sambil melihat giginya di lantai dia pun kembali melanjutkan sarapannya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, setelah sarapan Cici berangkat sekolah belajar dan pulang sekolah cici melaksanakan rutinitas kesehariannya yaitu mencuci baju karena sudah satu minggu dia tidak mencuci baju, ember tempat pakaian kotor penuh menumpuk menjadi gunung  dengan lelahnya dia mulai mengambil sikat dan mulai mencuci baju  karena kelelahan di siang bolong gadis berjilbab ini tidur di saat masjid berkumandang dan cici tidak melaksanakan ibadah sholatnya, “aduh sakitnya”katanya, ternyata cici tidur sambil berbicara
“ci..cici bangun” dengan lembutnya ayahnya membangunkan cici tidak seperti biasanya ayah Cici hari ini bertingkah lembut Cici yang susah bangun pagi ini pun terbangun “ah ternyata aku mimpi lagi di dalam mimpi ku aku mimpi gigiku lepas dua pertama saat sarapan kedua saat aku tidur di siang bolong aku bermimpi alm.ibu datang dan membantuku mencabut gigiku mimpi di dalam mimpi sungguh aneh” ucapnya.
Cici yang susah bangun pagi ini termenung “kenapa akhir – akhir ini setelah sholat shubuh aku tertidur yah, ah sudah lah aku mau mandi dulu ” katanya “ci…cici ayo sarapan sama bapak ” dengan lembut pak Edi memanggil cici, “kenapa bapak bertingkah aneh yah biasannya juga teriak – teriak ” katanya.
“pak aku sekolah assalamualaikum”ucapnya,
“walaikumsalam ” kata ayahnya “ci ..cici mau bapak antar  ” ucap ayahnya dengan lembut, “gak usah pak, aku kan sudah SMA masa diantar sampai depan kan bapak Cuma antar sampai depan gang rumah gak usahlah pak dekat juga kok” jawabnya, “ci..cici”panggil ayahnya, “iya, kenapa pak?” sahutnya “kamu sudah sarapan ” tanya ayahnya “sudah pak ”jawabnya “oh iya hampir lupa ” Cici lupa bersalaman kepada ayahnya .
Teng..teng.. lonceng berbunyi Cici yang baru tiba di depan gerbang sekolah langsung berlari menuju kelasnya. “Siap …. beri salam” kata zaki si ketua kelas, se..la..mat pa..gi pak.. ucap para murid SMA itu. “pagi” kata bu santi, tiba – tiba datang matius dan salma membawa sebuah kotak kosong dan mengumumkan “inalillahiwainalillahirojiun telah berpulang ke rahmatullah ayahanda teman kita  untuk itu saya sebagai ketua osis meminta kepada teman – teman semua sumbangan yang seikhlas – ikhlasnya ” ucap Salma si ketua osis sambil menangis.
“ya Allah kenapa hatiku jadi takut kenapa tangan – tanganku gemetar kenapa aku begini ?” katanya sambil melihat Salma menangis kemudian Matius berkata “Cici yang ikhlas yah”, serentak semua murid di kelas menangis Cici yang mendengar perkataan Matius menangis sampai akhirnya pingsan mimpi di dalam mimpi Cici tentang rasa sakit karena giginya itu ternyata adalah sebuah tanda atas kematian ayahnya.