“MIMPI DI DALAM MIMPI”
Disebuah desa didaerah perbatasan
antara Indonesia – Malaysia, hiduplah seorang anak yang bernama Cici. “Ci….Cici”panggil
ayahnya “iya sebentar pak” jawab Cici
“oh…..Ci belikan dulu bapak rokok di warung” teriak ayahnya, “beli apa pak”
jawab cici “beli rokok 5 batang ”sahut ayahnya,
”beli dimana pak?” tanya Cici ”beli di warung lah cepat lah ” jawab ayahnya. Cici pun
bergegas pergi ke warung, “ Pak ada rokok” kata Cici, “gak ada dek disana dek,
di warung pak Jono”kata penjaga warung tersebut. Cici pun kembali melangkahkan
kakinya meninggalkan warung tersebut. Tiba – tiba ditengah jalan Cici melihat
sesuatu “ih apa nih?”katanya. “Alhamdulillah dapat uang Rp.2000”. Ternyata Cici
menemukan uang Rp.2000 dengan senyum yang lebar dan wajah yang berseri Cici kembali
melanjutkan perjalanannya”.”beli apa Ci”kata pak Jono “beli rokok 5 batang pak
”jawab Cici ini uangnya”(sambil mengulurkan tangannya). “yah si Cici ini uangnya
kurang”jawab pak Jono “alamak baru juga dapat uang dijalan sekarang uangnya
hilang lagi iss…iss..iss” jawabnya. “kenapa Ci uangmu hilang” kata pak Jono
“Gak pak berapa semuanya” jawabnya, “Rp.10.000”
jawab pak jono “ini uangnya pak” kata Cici “makasih yah” , “sama-sama ”
begitulah kata mereka berdua.
Ihhh aku rasa ini hari tersialku
sial….sial…sial ! eluh Cici sesampainya dirumah Cici segera memberikan rokok
tersebut kepada ayahnya “ini pak rokoknya”, ”oh ya ambilkan dulu bapak sandal
ada di bawah meja” suruh ayahnya. Cici segera pergi ke dalam rumahnya dan
melaksanakan perintah ayahnya, ”ini sendalnya” kata Cici “jangan jalan – jalan ke tempat lain jaga
rumah “, “iya”(sambil mengejek- ejek ayahnya) . “bapak ni cerewet suruh ini lah
suruh itu lah ambil ini lah ambil itu bikin pusing”eluhnya.
“aduh.. kaki ku”teriak Cici “sial kaki ku tertusuk
paku” “ya Allah kenapa hari ini aku sial
sekali”.
Keesokan paginya ketika hendak ke
sekolah Cici berdiri di depan kaca jendela rumahnya memandang bayangan dirinya
yang mengenakkan topi, dasi, seragam putih abu – abu serta sandal karena salah
satu kaki cici tertusuk paku “pak aku berangkat sekolah ” kata Cici namun tak
terdengar jawaban salam dari ayahnya karena ayah Cici sedang sholat subuh
karena kelelahan setelah melaut dengan jadwal pulang ke rumah tidak tentu maka
bapak dan anak tersebut tak dapat menjalankan sholat berjamaah .
Ketika memasuki halaman sekolah orang – orang
memperhatikan Cici “kenapa orang – orang memperhatikan aku yah sungguh aneh
sekali”. Semua orang tersenyum padaku gak seperti kemarin sial terus “ ucapnya
. Ternyata orang – orang tersenyum kepada Cici karena menertawakan penampilan
Cici yang aneh dia mengenakan sepatu dan sandal karena hanya satu kaki yang
tertusuk paku, maka dia hanya memakai sandal pada kaki yang tertusuk paku
sedangkan kaki yang satu lagi memakai sepatu lengkap dengan kaus kaki, semua
orang tertawa melihat penampilan Cici karena tidak tega tertawa di depan Cici
maka teman – temannya hanya menahan tertawa mereka sehingga terlihat mereka
semua tersenyum kepada Cici .
Teng…teng…teng…teng lonceng berbunyi tanda kelas
belajar hari ini selesai Cici dan teman – temannya kembali ke rumah mereka
masing – masing.
“Ya Allah anak gadisku Cici coba lihat kaki mu apa kau tidak
malu ! lihat penampilanmu kaki satu pakai sandal kaki satunya pakai sepatu,
astagfirullahalazim” oceh ayahnya “ ngapain malu kan kaki yang tertusuk paku
hanya satu jadi kaki yang ini pakai sepatu “ (sambil menunjukkan kakinya). Ketika memasuki rumah Cici berhenti
tepat di samping pintu “ya ampun ruamahku seperti kapal pecah barang – barang
berserakan dimana- mana ”. Semenjak ibu Cici meninggal dunia Cici dan ayahnya
hanya tinggal berdua di rumah, sedangkan kakaknya sibuk berjualan kue di depan
rumahnya sambil mengurus putranya M.Putra Abbas yang tinggal di desa sebelah,
Cici adalah anak bungsu dari dua bersaudara kakaknya sudah menikah dan sekarang
mempunyai anak satu, suaminya bekerja sebagai guru SD, sedangkan ayah Cici
berprofesi sebagai nelayan yang tidak tentu penghasilannya. Ibu Cici meninggal
dunia ketika Cici duduk di kelas 4 SD, kononnya penyebab kematian ibunya adalah
di guna – guna orang (pelet) itu kata sebagian penduduk desa, di dalam tubuh
ibunya di temukan paku dan pecahan kaca,
semua keluarga cici sudah berusaha untuk mengobati ke berbagai dukun di desa
tersebut hasilnya malah makin parah semua harta di rumah Cici telah dijual
untuk membayar biaya rumah sakit namun tak kunjung sembuh sehingga keluarga
Cici memutuskan untuk pergi ke berbagai dukun di desa mereka namun tak kunjung
sembuh dan akhirnya ibu Cici meninggal dunia, sejak saat itu ayah Cici sakit –
sakitan dan bertambah parah ketika ayah cici terjatuh dari motor dan motor
tersebut menimpa kaki ayahnya oleh karena itu, kaki ayahnya luka parah darah
bertetesan ayahnya pun menjerit – jerit ketika di bawa ke puskesmas pak Edi
langsung di rujuk ke rumah sakit ternyata baru diketahui bahwa ayahnya
menderita diabetes kaki pak Edi perlahan – lahan membengkak dan makin parah,
karena mahalnya biaya rumah sakit keluarga memutuskan untuk keluar dari rumah
sakit dan memilih alternatif lainnya, pak Edi melakukan terapi khusus penderita
penyakit diabetes dan alhamdulillah selama ± 1 bulan pak Edi dapat berjalan dan
kembali beraktifitas seperti biasannya.
Tik..tik..tik.. terdengar suara hujan di atas
genteng. “ pak hujan… oh pak hujan“, “ambil ember di luar ” balas ayahnya “ini
pak”(sambil memberikan ember kepada ayahnya). Di saat hujan atap dapur rumah
Cici bocor, jadi ayahnya meletakkan ember di bawah tetesan hujan. “Hujannya
lebat sekali ”kata Cici.
Keesokan paginya Cici berangkat sekolah dengan
mengendarai motor gede berwarna merah, helm merah, dan tas merah. Ketika tiba
di depan gerbang sekolah semua mata hanya tertuju pada Cici “wow” kata mereka
“Cici hari ini keren yah , keren banget bapaknya dapat peti emas kali ”
hahahahaha tertawa teman – temannya “eh kamu jangan sembarang ngomong yah mulut
itu di jaga , sembarangan aja ngomongnya” bentak Cici. Ayah Cici mendapat uang
sebesar 500 juta dari seorang kakek yang dibantu ayahnya ketika mengangkat
jaring – jaring ikan dan memberikan ayahnya uang sebesar 500 juta sebagai wujud
terimakasihnya kepada pak Edi, uang itu di gunakan pak Edi untuk membeli
sehektar tambak dan hasilnya memuaskan baru satu kali panen pak Edi berhasil
mendapatkan uang sebesar 800 juta luar biasa uang tersebut di gunakan pak Edi
untuk membeli motor gede membangun rumah bertingkat tiga dan barang mewah
lainnya ketika panen untuk kedua kalinya pak Edi berhasil mendapat uang sebesar
satu milyar dan digunakannya untuk membangun sebuah restoran nama pak Edi bukan
lagi dikenal sebagai nelayan tapi sang juragan tambak setiap hari Cici beserta
kakak Ira dan kak Rahman serta si kecil Abbas selalu pergi belanja. Siang, malam,
pagi, sore hanya dipenuhi dengan aktifitas belanja siapa yang tak kenal pak Edi
semua warga desa tak ada satu pun yang tak kenal pak Edi si juragan tambak.
“Ci..cici..cici” teriak ayahnya “kamu gak sekolah ini sudah
jam berapa ”kata ayahnya “iya pak ” jawabnya “ternyata aku hanya bermimpi andai
saja semuanya nyata senangnya dalam hati hahahha” katanya ”ini anak disuruh
bangun sekolah malah tertawa cepat bangun nanti di tinggal carteran angkot mu”
kata pak Edi. Cici pun bergegas mandi sedangkan ayahnya menyiapkan sarapan pak
Edi menyiapkan segelas teh diatas meja dan satu cangkir kosong ketika selesai
berpakaian cici dan ayahnya berbagi segelas teh dan memakan kue karena hanya
ada satu kue ayah Cici pun hanya sarapan dengan setengah cagkir teh. Ketika
menunggu carteran di depan gang rumahnya Cici kembali mengingat mimpinya dan
dia bertekat kelak dia akan membangun rumah bertingkat tiga untuk ayah dan juga
kakaknya.
Carteran angkot pun datang Cici bersama teman –
teman lainnya saling bersapaan, di kelas Cici menceritakan kepada zaki dan juga
nunung sahabatnya tentang mimpinya, Zaki dan Nunung hanya tertawa terbahak –
bahak melihat Cici, “hahaha mimpi mu indah banget ci” serentak kedua sahabatnya
berkata seperti itu, namun Cici hanya diam dan tak marah ketika teman –
temannya berkata seperti itu dengan muka yang serius dia berkata “kelak aku
akan membangun rumah bertingkat tiga, aku akan membuat restoran, tambak dan
lainnya aku pasti bias !” katanya, kedua sahabatnya tertawa sampai mata mereka
berkaca – kaca. Sesampainya di rumah Cici kembali melaksanakan rutinitasnya
seperti biasa.
Keesokan paginya ketika sedang sarapan “aduh
kerasnya” katanya, dia menangis ternyata giginya lepas sambil melihat giginya
di lantai dia pun kembali melanjutkan sarapannya sambil menahan rasa sakit yang
luar biasa, setelah sarapan Cici berangkat sekolah belajar dan pulang sekolah
cici melaksanakan rutinitas kesehariannya yaitu mencuci baju karena sudah satu
minggu dia tidak mencuci baju, ember tempat pakaian kotor penuh menumpuk
menjadi gunung dengan lelahnya dia mulai
mengambil sikat dan mulai mencuci baju karena
kelelahan di siang bolong gadis berjilbab ini tidur di saat masjid berkumandang
dan cici tidak melaksanakan ibadah sholatnya, “aduh sakitnya”katanya, ternyata
cici tidur sambil berbicara
“ci..cici bangun” dengan lembutnya ayahnya membangunkan cici
tidak seperti biasanya ayah Cici hari ini bertingkah lembut Cici yang susah
bangun pagi ini pun terbangun “ah ternyata aku mimpi lagi di dalam mimpi ku aku
mimpi gigiku lepas dua pertama saat sarapan kedua saat aku tidur di siang
bolong aku bermimpi alm.ibu datang dan membantuku mencabut gigiku mimpi di
dalam mimpi sungguh aneh” ucapnya.
Cici yang susah bangun pagi ini termenung “kenapa akhir –
akhir ini setelah sholat shubuh aku tertidur yah, ah sudah lah aku mau mandi
dulu ” katanya “ci…cici ayo sarapan sama bapak ” dengan lembut pak Edi
memanggil cici, “kenapa bapak bertingkah aneh yah biasannya juga teriak –
teriak ” katanya.
“pak aku sekolah assalamualaikum”ucapnya,
“walaikumsalam ” kata ayahnya “ci
..cici mau bapak antar ” ucap ayahnya
dengan lembut, “gak usah pak, aku kan sudah SMA masa diantar sampai depan kan
bapak Cuma antar sampai depan gang rumah gak usahlah pak dekat juga kok”
jawabnya, “ci..cici”panggil ayahnya, “iya, kenapa pak?” sahutnya “kamu sudah
sarapan ” tanya ayahnya “sudah pak ”jawabnya “oh iya hampir lupa ” Cici lupa
bersalaman kepada ayahnya .
Teng..teng.. lonceng berbunyi Cici yang baru tiba
di depan gerbang sekolah langsung berlari menuju kelasnya. “Siap …. beri salam”
kata zaki si ketua kelas, se..la..mat pa..gi pak.. ucap para murid SMA itu.
“pagi” kata bu santi, tiba – tiba datang matius dan salma membawa sebuah kotak
kosong dan mengumumkan “inalillahiwainalillahirojiun telah berpulang ke
rahmatullah ayahanda teman kita untuk
itu saya sebagai ketua osis meminta kepada teman – teman semua sumbangan yang
seikhlas – ikhlasnya ” ucap Salma si ketua osis sambil menangis.
“ya Allah kenapa hatiku jadi takut kenapa tangan – tanganku
gemetar kenapa aku begini ?” katanya sambil melihat Salma menangis kemudian Matius
berkata “Cici yang ikhlas yah”, serentak semua murid di kelas menangis Cici
yang mendengar perkataan Matius menangis sampai akhirnya pingsan mimpi di dalam
mimpi Cici tentang rasa sakit karena giginya itu ternyata adalah sebuah tanda
atas kematian ayahnya.



